PANDEMI CUKUP SAMPAI DISINI

Sebagai pelajar yang merasa bahwa tugas itu adalah sebuah beban yang sangat membosankan, dan sebuah ancaman bagi kaum rebahan, yang merasa sangat terganggu dengan kenyamanan sebuah bantal dan kasur. Apalagi dimasa pendemi ini, saat dimulai sejarah pembelajaran daring, dimana-mana social distancing diberlakukan. Tentunya semua ini aturan pemerintah yang harus menyarankan kita stay at home, apapun dikerjakan dirumah, bahkan pekerjaan sekolah diganti pekerjaan rumah.

Saya ingin mengutarakan susah dan senang disaat sosial distancing, dimana semuanya harus daring, Setiap hari tugas tidak pernah alpa, menggunaka batas waktu, bahkan terkadang kita dari pagi sampai sore mengerjakan tugas belum lagi membantu pekerjaan orang tua, terkadang ada juga guru yang tidak menjelaskan dan langsung mamberikan soal, trus mapel yang lain ulangan pakai batas waktu, kalau terlambat mengumpulkan tugas maka tidak dianggap hadir.

Terkadang ada juga teman-teman bahkan saya sekalipun tidak paham dengan tugas yang diberikan. Tugas jalan terus, kuota habis, setiap hari pegang hp ikut pjj tapi tidak paham-paham kan percuma. belum lagi  catatan yang terus menumpuk, soal yang diberikan juga susah-susah.

Namun terlepas dari itu semua, kita harus tetap bersyukur harus tetap optimis dan tetap berusaha disaat semuanya sedang kacau sekalipun, karena pada dasarnya suatu bencana diciptakan agar umatnya selalu ingat dan taat kepada sang pencipta, sisi baik nya adalah karena pandemi kita bisa lebih mandiri lagi dalam mengerjakan tugas sekolah, setiap hari bisa membantu pekerjaan orang tua.

Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya masing-masing, begitu juga dengan tugas dan catatan yang menumpuk, jika dikerjakan sedikit demi sedikit pasti akan selesai. Memang tugas yang diberikan guru itu banyak namun lebih banyak lagi keluhan kami, dan sekarang kami juga sadar bahwa manusia yang berhasil itu adalah dia yang berani maju disaat yang lain mengeluh.

Sekolah adalah kewajiban bagi setiap orang, bahkan orang yang kurang mampu sekalipun, terkadang saya juga malu dengan mereka yang semangat belajarnya tinggi sekali walau keadaan mereka tidak memungkinkan, saat mereka kesusahan sinyal atau keterbatasan alat untuk belajar tapi mereka tidak pernah mengeluh. Sedangkan saya alat untuk belajar sudah lengkap, sinyal sangat bagus tapi masih malas untuk mengerjakan tugas, bahkan membaca materinya pun jarang sekali.

Sekarang saya harus lebih giat dan optimis dalam belajar, mereka saja bisa kenapa saya tidak, perjalanan saya masih panjang dan masih ada orang tua yang harus saya banggakan. keadaan seperti ini bukanlah alasan untuk malas dalam belajar, disaat yang lain mengeluh kita harus maju, disaat yang lain malas kita harus lebih rajin lagi.

Ingat ya teman-teman, walau dalam keadaan apapun kita harus tetap belajar, jangan sia-siakan jerih payah orang tua kalian mereka harus bekerja demi masa depan kalian, karena keberhasilan juga butuh usaha, semua harus dimulai dari diri sendiri, belajar itu tidak merugikan, belajar bukanlah beban, dan belajar bukanlah sesuatu yang mengerikan. Apa yang kalian tanam itulah yang kalian tuai, ingat bahwa ketapel juga perlu ditarik kebelakang dulu untuk melesatkan peluru. So, sekarang bukan waktu untuk mengeluh, ubahlah pola pikirmu, ubahlah kebiasaanmu, rajin belajar, raih prestasi dan buat cucuran keringat orangtua mu terbayar lunas dengan usahamu sendiri.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started